- Bug di mana kendaraan bisa terbang atau nembus tanah.
- Server sering crash.
- Balancing senjata kacau.
- Hilangnya fitur klasik kayak scoreboard dan voice chat di awal rilis.
Game ini dibombardir review negatif sampai akhirnya masuk daftar salah satu game dengan rating terendah di Steam.
Bahkan penggemar lama Battlefield bilang, “Ini bukan Battlefield yang kita kenal.”
Sekarang sih EA udah rilis banyak patch dan perbaikan, tapi image-nya udah telanjur rusak.
5. Fallout 76 – Dunia Nuklir Tanpa Jiwa
Bayangin: kamu dapet pengumuman dari Bethesda, studio di balik Skyrim dan Fallout 4.
Mereka janjiin game online survival dengan dunia pasca-apokaliptik yang bisa dijelajahi bareng teman.
Kedengarannya keren banget, kan?
Tapi saat Fallout 76 rilis di 2018, hasilnya bencana:
- Bug luar biasa banyak.
- Server sering disconnect.
- NPC gak ada (serius, gak ada karakter hidup selain pemain lain).
- Storytelling hancur total.
Bethesda bahkan dikritik karena jualan edisi kolektor mahal dengan bonus tas “kulit” yang ternyata cuma kain murahan.
Sekarang Fallout 76 udah lebih baik, tapi tetap aja — awal rilisnya dianggap salah satu kegagalan paling memalukan dalam sejarah industri game.
6. The Day Before – “Game Zombie Realistis” yang Ternyata Hoax?
The Day Before sempat jadi game paling diantisipasi di Steam tahun 2022–2023.
Developer-nya, Fntastic, janjiin survival MMO realistis dengan visual ultra-detail — campuran antara The Last of Us dan Division 2.
Tapi begitu rilis, gamer langsung sadar:
- Visual downgrade parah.
- Gameplay gak sesuai trailer.
- Server gak stabil.
- Banyak fitur “AI” yang ternyata cuma script sederhana.
Lebih parahnya lagi, game ini dihapus dari Steam cuma beberapa minggu setelah rilis karena tuduhan plagiarisme dan manipulasi trailer.
Banyak yang bilang ini adalah “scam terbesar di dunia game modern.”
7. eFootball 2022 – Ketika PES Berubah Jadi Meme
Konami pengen nge-rebranding seri Pro Evolution Soccer (PES) jadi eFootball — game sepak bola gratis dengan sistem live update.
Tapi saat rilis, eFootball 2022 langsung jadi bahan lelucon di seluruh dunia.
Masalahnya?
- Wajah pemain terlihat aneh dan glitch parah (Messi kayak karakter PS2).
- Animasi bola dan collision gak realistis.
- Gameplay terasa berat dan lambat.
Game ini bahkan dapet rating 0.9 di Metacritic, menjadikannya salah satu game dengan skor terendah sepanjang sejarah.
Sekarang Konami udah banyak perbaikan, tapi tetap aja, awalnya terlalu buruk buat dilupain.
8. Saints Row (2022) – Reboot Tanpa Jiwa
Seri Saints Row dikenal sebagai alternatif gila dari GTA — penuh humor, aksi absurd, dan kebebasan.
Makanya waktu reboot diumumkan, fans berharap bakal dapet Saints Row versi modern yang tetap liar.
Sayangnya, hasilnya malah “aman banget.”
Karakter terasa hambar, cerita gak lucu, dan bug-nya banyak banget.
Banyak fans bilang:
“Saints Row yang baru kehilangan semua hal yang bikin kita cinta game ini dulu.”
Hype-nya tinggi, tapi reboot ini justru bikin franchise mati total.
9. Watch Dogs – Janji “Next-Gen” yang Palsu
Waktu pertama kali diumumkan di E3 2012, Watch Dogs bikin semua orang terkesima.
Ubisoft janjiin game dengan dunia realistis, hacking super canggih, dan grafis yang bikin rahang jatuh.
Tapi pas rilis (2014)?
Grafiknya turun jauh dari trailer, gameplay repetitif, dan karakter utamanya (Aiden Pearce) dianggap membosankan.
Ubisoft bahkan ketahuan menurunkan kualitas visual secara sengaja biar performanya stabil di konsol generasi lama.
Sejak saat itu, istilah “Ubisoft downgrade” lahir — simbol dari janji palsu di dunia game.
10. Marvel’s Avengers – Superhero Tanpa Semangat
Game bertema superhero dari Square Enix ini awalnya punya potensi besar.
Dengan lisensi Marvel dan hype film Avengers, ekspektasi gamer tinggi banget.
Tapi ternyata…
- Gameplaynya repetitif dan monoton.
- Sistem loot bikin frustasi.
- Karakter favorit terkunci di belakang grind paywall.
- Mode online cepat sepi.
Walaupun punya karakter-karakter ikonik kayak Iron Man dan Thor, Marvel’s Avengers gagal total karena terlalu fokus ke monetisasi, bukan pengalaman.
Server-nya bahkan ditutup permanen tahun 2024.
Kesimpulan: Dari Hype ke Kekecewaan
Semua game di daftar ini punya kesamaan: janji besar, ekspektasi tinggi, hasil mengecewakan.
Sebagian berhasil bangkit lewat update (No Man’s Sky, Cyberpunk 2077), tapi sebagian lain tetap jadi peringatan keras buat gamer dan developer.
Hype bisa bikin game terlihat sempurna — tapi pada akhirnya, yang diingat pemain adalah pengalaman sebenarnya.
Industri game sekarang belajar banyak dari kegagalan ini.
Karena pada akhirnya, kejujuran dan kualitas lebih berharga daripada trailer paling sinematik sekalipun.
FAQ: Game Paling Ditunggu yang Ternyata Gagal
1. Game mana yang paling gagal di antara semuanya?
Secara dampak, Cyberpunk 2077 dan Fallout 76 dianggap paling mengecewakan karena datang dari studio besar dengan reputasi tinggi.
2. Apakah semua game gagal bisa bangkit lagi?
Gak semuanya. Hanya yang terus diperbaiki seperti No Man’s Sky atau Cyberpunk 2077 yang bisa menebus kesalahan.
3. Kenapa banyak game gagal saat rilis?
Biasanya karena tekanan investor, jadwal rilis ketat, dan janji marketing berlebihan yang gak realistis.
4. Apakah developer sengaja menipu gamer?
Gak selalu. Kadang hype terlalu besar bikin ekspektasi gak seimbang sama kemampuan teknis tim.
5. Apa pelajaran terbesar dari kegagalan ini?
Bahwa kesempurnaan butuh waktu. Lebih baik menunda rilis daripada ngasih game setengah matang ke publik.