
Lo bisa suka atau benci Manchester United, tapi kalau lo pernah nonton satu-dua pertandingan mereka, lo pasti notice satu hal: ada bek kanan yang tackling-nya kayak mode “ultra insting” dan bikin winger lawan hilang akal.
Yup, itu Aaron Wan-Bissaka.
Dijuluki “The Spider” karena kakinya bisa “menjangkau” bola sejauh apapun kayak laba-laba, AWB (panggilan singkatnya) adalah salah satu bek kanan terunik di generasinya — bukan karena kemampuan menyerangnya, tapi karena defensif ability-nya gak masuk akal.
Sekarang kita kupas habis si pemalu dari London Selatan ini yang diam-diam jadi kunci pertahanan Setan Merah.
Awal Mula: Crystal Palace dan Transisi Aneh dari Winger ke Bek
Wan-Bissaka lahir di Croydon, London Selatan, pada 26 November 1997, dari keluarga berdarah Kongo. Dia tumbuh besar di akademi Crystal Palace sebagai… winger.
Yes, lo gak salah baca. Dulu dia pemain depan.
Tapi waktu itu, Palace kekurangan bek kanan di tim U23. Pelatih coba taruh Wan-Bissaka di posisi itu buat “sementara”.
Ternyata malah nyetel banget.
Lo bisa bilang ini salah satu “accidental role switch” paling berhasil dalam sejarah Premier League modern.
Dia debut di tim utama Palace musim 2017/18, dan langsung viral karena performanya yang gak keliatan kayak pemain muda.
Ciri Khas: Tackle Bersih, 1v1 Master, dan Slide-nya Ngeri Tapi Presisi
Kalau kita ngomong soal gaya main Wan-Bissaka, ini hal-hal utama yang lo harus tahu:
- 1v1 DEFENDING-nya elite banget. Dia practically ngunci siapa pun di sayap.
- Tekelnya bersih banget, bahkan kalau bola udah agak jauh, dia masih bisa nyamber dan ambil bersih.
- Slide tackle-nya kayak senjata utama. Kakinya panjang dan refleksnya cepat, kayak… “oh, bola udah lolos? Wait a second. SLIDE. BOLA DIKANTONGIN.”
- Recovery run dia luar biasa. Lo lewatin dia sekali, lo belum lolos. Dia masih balik dan nampol lo dari belakang.
Fans lawan sering sebel. Fans MU suka setengah mati. Karena lo gak bisa dribble lewat dia dengan santai.
Transfer ke Manchester United: Naik Kelas, Naik Tekanan
Tahun 2019, Manchester United beli AWB dari Crystal Palace seharga £50 juta.
Banyak yang bilang itu overprice. Tapi MU lagi haus pemain bertahan yang bisa jaga sayap kayak benteng.
Dan di musim pertamanya? AWB tampil solid banget.
Statistik 2019/20 (Premier League):
- 129 tekel sukses (paling banyak di antara semua bek)
- 10+ blok crossing
- Rata-rata 3+ tackle per laga
- Nyaris gak pernah dilewatin dribble langsung
Dia langsung jadi pilihan utama di kanan. Fans suka, pundit hormat, dan pemain lawan? Ya, mulai males lewat sisi dia.
Tapi… Gaya Mainnya “Kuno”?
Nah, inilah sisi kontroversialnya.
Di sepak bola modern, full-back dituntut buat bantu serangan, overlap, kasih assist, bahkan bikin gol.
Contoh:
- Trent Alexander-Arnold
- João Cancelo
- Reece James
Bandingin sama Wan-Bissaka?
Dia oke di bertahan, tapi kontribusi menyerangnya lemah banget.
Masalah yang sering dibahas:
- Crossing-nya gak konsisten
- Kombinasi di sisi kanan masih kaku
- Kadang terlalu lambat ambil keputusan
- Gak punya angka assist/goal tinggi
Akibatnya? Fans mulai bagi dua:
“Keep him for defense” vs “Jual aja, modern full-back harus bisa nyerang.”
Saingan dengan Diogo Dalot dan Bangkitnya Mentalitas
Musim 2021–2023, Erik ten Hag masuk dan mulai lebih prefer Diogo Dalot — full-back asal Portugal yang lebih fleksibel dalam build-up.
AWB mulai sering duduk di bench. Banyak yang bilang dia bakal dijual. Tapi yang terjadi?
Dia balik dengan mode savage.
Musim 2022/23:
- Jadi kunci MU pas laga-laga krusial, termasuk lawan City dan Barcelona
- 1v1 defending tetap elite
- Performa jauh lebih matang, bahkan kelihatan lebih percaya diri bawa bola
Ten Hag bilang:
“Dia punya potensi besar. Dia belajar, dan kerja keras.”
Yang menarik, Wan-Bissaka kelihatan lebih tenang. Dia gak banyak komentar di media. Tapi di lapangan, dia buktiin semuanya.
Timnas Inggris: Kenapa Gak Dipanggil?
Banyak fans bingung:
“Gimana caranya orang dengan kemampuan bertahan sekeren ini gak pernah dapat caps di Timnas Inggris?”
Alasannya:
- Persaingan brutal: Inggris punya Reece James, Trent, Walker, Trippier.
- Gaya main Southgate lebih pilih bek yang bisa build-up.
- Beberapa kali cedera atau out of form pas momen penting.
Karena itu, meski udah pernah main di U21, dia belum dapat debut senior. Bahkan sempat disebut mau ganti negara ke Kongo — tapi sampai sekarang belum kejadian juga.
Mentalitas & Kepribadian: Si Pendiam yang Gak Suka Kamera
Kalau lo cari wawancara panjang dari AWB… good luck.
Orangnya pendiam, introvert, dan lebih nyaman diem daripada tampil.
Tapi di lapangan? Dia jadi sosok yang beda. Lo bisa liat semangat, fokus, dan komitmennya buat nutup ruang dan bantu tim.
Bahkan pas dibilang “gak modern”, dia gak pernah ngomel di media. Dia latihan, kerja keras, dan balik ke starting XI dengan bukti, bukan kata-kata.
Penutup: Wan-Bissaka, Si Bek yang Gak Ikut Tren Tapi Tetap Relevan
Aaron Wan-Bissaka adalah contoh dari pemain yang gak cocok di sistem semua pelatih, tapi bakal bersinar banget di tim yang tahu cara manfaatin kekuatannya.
Dia bukan bek kanan yang flashy, tapi kalau lo winger sayap kiri, dan lo harus duel lawan dia… good luck, bro.
Dan yang jelas, dia udah nunjukkin ke semua orang bahwa lo bisa bangkit walau diremehkan. Lo bisa balik dari titik rendah, selama lo kerja keras dan diem-diem ngelakuin semuanya di latihan.
Jadi, dia bukan full-back modern. Tapi dia pemain penting buat tim yang pengen aman di belakang.
Dan kadang, itu lebih berharga dari 5 crossing cantik yang gak kena kepala siapa-siapa.